profil nyai sekar kenongo

Website www.SusukJawa.com adalah website resmi milik Nyai Sekar Kenongo. Beliau adalah pakar susuk yang memurnikan kembali susuk asli dari tanah jawa. Mungkin Anda masih bertanya-tanya, siapa itu Nyai Sekar Kenongo? Berikut adalah biografi singkatnya.

“ Nyai Sekar Kenongo ” begitulah orang mengenal sosok perempuan muda, cantik, menarik, berwibawa, berkharisma, dan cerdas ini.

Nyai Sekar Kenongo mempunyai nama asli “ Gina Wening Pratiwi ”. Membaca namanya saja, Anda sudah terbayang bahwa nama tersebut adalah nama kejawen. Ya, karena beliau lahir di kota Wali (Demak). Kota yang masih sangat kental dan menjunjung tinggi nilai spiritualitas tanah jawa.

Pada tahun 1993, tepatnya bulan Oktober tanggal 4, beliau dilahirkan oleh keluarga yang memang sudah dikenal masyarakat sebagai orang yang mempunyai daya linuwih dalam hal susuk.

Darimana Nyai Sekar Kenongo Mempelajari Susuk ?

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kita mau mencoba, belajar, menemukan caranya, dan menjaga keseimbangan batin maupun lahir. Begituah prinsip hidup yang dipegang dan dijalankan oleh Nyai Sekar Kenongo.

Berawal dari rasa penasaran inilah yang mendorong Nyai Sekar menjadi seorang pakar susuk asli warisan tanah jawa sekarang ini. Rasa keingintahuan menjadi sangat besar manakala rumahnya sering kedatangan tamu.

Perasaan itu pun begitu menggelitik keingintahuannya untuk bertanya. Namun karena dianggap masih kecil, pertanyaan Nyai Sekar Kenongo hanya di jawab dengan senyuman yang di iringi tawa kecil oleh orang tuanya.

Kesal karena tidak mendapatkan jawaban, Sekar kecil bertekad untuk mencari jawaban dengan caranya sendiri. Diam-diam, Sekar kecil memberanikan diri untuk bertanya ke saudara-saudaranya. Dari situlah sedikit demi sedikit rasa pensarannya mulai terjawab.

Ternyata, alasan mengapa banyak orang yang datang kerumahnya adalah, karena orang tuanya seorang Pakar Susuk yang cukup terkenal.

Itulah pertama kalinya Nyai Sekar Kenongo mengenal istilah susuk.

Saat Nyai Sekar kecil bertanya kembali perihal susuk, jawaban yang di terima lagi-lagi “ Belum saatnya adek tahu ”. Bukannya berhenti mencari tahu, tapi justru membuat Nyai Sekar Kecil semakin bersemangat untuk menggalinya lebih dalam.

Setiap ada orang yang datang kerumah, Sekar kecil selalu mengamati apa yang dilakukan orang tuanya. Mulai dari duduk membaca doa, proses memakan bunga, sampai mengamati benda-benda kecil yang diselipkan di kulit bagian tubuh tertentu.

Dari situlah Sekar kecil mulai banyak tahu. Sampai akhirnya, Sekar kecil diijinkan orang tuanya untuk membaca buku kuno perihal rahasia susuk asli warisan leluhur. Alhasil, Sekar kecil banyak sekali menyerap pengetahuan perihal susuk jawa asli.

Memasuki usia 14 tahun, Nyai Sekar Kenongo melawan rasa takutnya untuk mengutarakan keinginan kepada orang tuanya, terutama ke Ayahnya. Karena dalam hal ini, ayah Sekar Kenongo-lah yang dipercaya masih ada trah keturunan dari Kerajaan Demak, sekaligus yang mempunyai daya linuwih dari spiritual susuk jawa asli.

Satu keinginan Sekar kepada Ayahnya waktu itu adalah “ Romo, aku ingin jadi tukang susuk, biar aku bisa bantu banyak orang seperti romo ”. Ayahanda Sekar pun tertawa mendengar permintaan Sekar kecil yang begitu polosnya. Namun jawaban sangat bijaksana terlontar dari ayahnya.

“ Boleh saja anakku, tapi pesan romo, jadilah pakar susuk yang berguna bagi banyak orang. Jangan menjadi pakar susuk yang hanya ingin uangnya saja. Tapi bantu dan arahkan mereka dengan baik dan benar”. Lalu Sekar kecil menjawab “Baik romo, aku mau menjadi tukang susuk yang baik dan berguna ”.

Di sinilah awal menjadi Sekar Kenongo dimulai. Ayahnya mulai bercerita banyak mengenai susuk. Mulai dari sejarah susuk jaman dulu, sampai perubahan susuk sekarang ini yang sudah tidak murni lagi sesuai warisan leluhur.

Seusai mendengar cerita dari sang ayah, timbul perasaan senang sekaligus sedih.

Senang, karena akhirnya orang tuanya bersedia memberikan jawaban, Sehingga dia bisa mempelajari ilmu susuk asli jawa yang dia sukai pada ahlinya.

Sedih karena pada kenyataan sekarang, Ilmu Susuk Asli Warisan Leluhur Tanah Jawa sudah sangat melenceng dari sejarah dan juga kemurnian susuk itu sendiri.

Kebanyakan susuk yang ada saat ini telah ter-modernisasi dengan kemasan tertentu. Misalnya adalah susuk kemasan kapsul, atau kemasan-kemasan lain. Yang mana susuk jenis ini bisa dibilang bukan susuk. Tapi lebih kepada pengisian energi pada benda tertentu. Sama prinsipnya dengan benda bertuah isian.

Entah apa yang terpikir di benak pakar-pakar susuk sekarang. Tapi apapun itu, Nyai Sekar tetap menghargai jenis susuk hasil karya setiap pakar susuk. Dan mengembalikan semua kepada masing-masing pengguna susuk.

Mengetahui kondisi ini, membuat Nyai Sekar Kenongo membulatkan tekat untuk memperlajari Ilmu Susuk Asli Warisan Leluhur Tanah Jawa lebih mendalam lagi. Dengan harapan supaya ilmu susuk ini dapat di murnikan kembali serta lestari dan lebih bermanfaat bagi siapapun yang membutuhkannya.

Bakat Terpendam Hasil Warisan

Memiliki darah keturunan dari trah kerajaan Demak dengan daya linuwih susuk ini pun mengalir di Nyai Sekar Kenongo. Bakat yang di miliki oleh Nyai Sekar Kenongo sudah bisa di lihat sejak dia masih kecil.

Jika pada umumnya anak kecil lebih memilih untuk bermain bersama teman-temannya, Sekar kecil lebih memilih duduk di rumah dan melihat kedua orang tuanya membantu orang-orang yang datang.

Saat di disuruh ikut main bersama teman-temannya, ternyata jawaban Sekar cukup mengejutkan “ Karena di sini lebih menyenangkan, aku bisa melihat pelangi yang berasal dari benda yang dimasukkan ke kulit dan ditelan orang-orang itu, bagus dan indah ” .

Jawaban polos namun terlihat kedewasaan dari cara pandang. Itulah Sekar kecil.

Melihat bakat yang begitu besar di dalam diri putrinya, di tambah lagi kecintaannya pada ilmu susuk asli leluhur kejawen yang murni, serta keinginan kuatnya untuk melestarikan ilmu tersebut.

Sampai disuatu masa, kedua orang tuanyapun menitipkan Sekar kepada para ahli susuk Asli Leluhur Jawa, untuk memperdalam dan mengembangkan bakat alami yang di miliki Nyai Sekar. Meski harus mengorbankan sekolah untuk memenuhi keinginan Sekar kecil.

Namun kedua orang tuanya tidak pernah khawatir sedikitpun. Orang tua Sekar berpikir, mungkin ini sudah menjadi jalan Tuhan yang di titahkan ke mereka untuk anaknya.

Bertahun-tahun Nyai Sekar Kenongo menimba ilmu dan memperdalam pengetahuan susuk yang benar-benar murni dari ahlinya. Hampir semua guru yang mengajarnya merasa takjub akan bakat dan kecerdasan alami yang di miliki oleh Nyai Sekar Kenongo.

Bahkan ada satu guru spiritual Sekar yang secara sukarela mempercayakan keilmuan susuk yang masih di sembunyikannya dari orang lain, bahkan pewaris keturunannya sendiri.

Merasa cukup, Nyai Sekar Kenongo akhirnya kembali menghadap pada kedua orang tuanya yang di sambut dengan penuh kebanggaan dan kegembiraan.

Sang ayah meminta untuk menceritakan pengalaman yang pernah dipelajari dari beberapa guru spiritual ahli susuk warisan leluhur tanah jawa. Dan Sekar-pun menceritakan dengan sangat antusias.

Karena sudah selesai memperdalam ilmu spiritual susuk asli warisan leluhur, akhirnya orang tua Sekar meminta untuk mulai melanjutkan kembali aktivitas sekolahnya. Dan dengan senang hati, Sekar pun menyetujui permintaan orang tuanya.

Pulang dari sekolah, Sekar pun masih belajar perihal susuk dari buku-buku yang dipunya ayahnya. Dan sesekali Sekar Kenongo diminta Sang Ayah untuk membantu meritualkan dan memasang susuk kepada tamu yang datang kerumahnya.

Sesuai dengan janji yang telah di buatnya dengan sang guru bahwa dia hanya akan mengamalkan ilmunya dalam hal kebaikan supaya lebih berguna dan berkah, Nyai sekar Kenongo secara perlahan membantu mereka untuk meluruskan niatnya terlebih dahulu sebelum memasang susuk, supaya manfaat Susuk asli leluhur lebih berguna dan maksimal.

Pengalaman Pertama Mempraktekkan Ilmunya

Peristiwa ini terjadi ketika Nyai Sekar Kenongo sedang duduk di bangku SMA. Salah satu teman baiknya datang sambil menangis. Sahabat itu bercerita bahwa dia baru saja di putus oleh pacarnya, padahal rencana sehabis lulus sekolah pacarnya tersebut akan menemui orang tuanya untuk mengikat.

Teman sekar bercerita kalau beberapa hari belakangan ini dia bersikap cuek dan tidak perhatian lagi. Bahkan sering marah-marah tidak jelas.

Meskipun menyakitkan, namun yang namanya perasaan cinta tidak bisa di kata, tetap saja dia ingin kembali kepelukannya. Rasa sayang terkadang bisa menutup rasa kebencian di dalam hati meskipun tersakiti. Bisa pula sebaliknya.

Karena takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan pada sahabatnya, Nyai Sekarpun bersedia untuk membantunya. Nyai tak lantas membantunya seketika itu, karena bisa saja sahabatnya ini yang membuat kesalahan, sampai membuat reaksi pacarnya yang menjauhinya.

Setelah mencari tahu, ternyata memang benar, pacar teman baiknya mempunyai gandengan baru. Merasa kasihan dengan teman baik Sekar, akhirnya Sekar bilang ke temannya “ Tidak perlu khawatir, nanti tak bantu buat pacarmu bisa senang lagi ke kamu ”.

Mendengar itu, teman baiknya merasa terhibur dan sedikit lebih tenang. Meski dalam diri Sekar pun belum begitu yakin karena ini kali pertamanya Sekar akan mempraktekkan sendiri kemampuan susuknya.

Namun, ketika perasaan ragu muncul, yang utama diingat Sekar adalah pesan dari Guru Spiritualnya, “ Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, selama kamu mau mencoba dengan kemantaban dan keyakinan diri atas kuasa Tuhan ”.

Akhirnya dengan kemantaban hati, Sekar memasang susuk di beberapa bagian tubuh temannya.

Meski telah dipasang susuk, tak lantas membuat Nyai Sekar Kenongo merasa selesai dan membiarkan begitu saja. Tapi Sekar tetap membimbing dan memberikan nasihat untuk menjalankan usaha lahir (usaha nyata). Tujuannya adalah sebagai penyeimbang energi dari susuk yang telah dipasang.

Kurang lebih satu bulan berselang, saat Sekar masuk ke ruang kelas segera di peluk oleh sahabatnya dan memberitahukan kabar bahagia bahwa mantannya minta balikan.

Dari mulut ke mulut, keberhasilan sekar membantu temannya ini pun menyebar. Hingga nama “ Gina ” (Saat itu belum bernama Sekar Kenongo) sangat di kenal dan menjadi buah pembicaraan banyak orang di sekolah sebagai Pakar Susuk.

Bermula dari pengalaman teman dekat itulah, satu per satu tamu mulai datang kerumahnya. Baik yang dari teman sekolah sendiri, orang sekitar, bahkan terdengar sampai ke desa sebelah. Yang akhirnya beranjak sampai ke kota-kota.

Kendati demikian, tidak semua orang akan di bantu oleh beliau. Beliau akan menyelam ke dalam Daya bathin (Alam Sukma) yang di miliki oleh orang tersebut untuk membaca niatan sebenarnya.

Jika niatnya baik maka beliau dengan senang hati akan membantunya, namun apabila niatnya kurang baik beliau akan membimbing orang tersebut terlebih dahulu untuk meluruskan niatnya.

Karena dari awal, tujuan beliau memperdalam ilmu susuk adalah sebagai salah satu cara melestarikan budaya asli warisan leluhur tanah jawa. Beliau juga memiliki misi supaya ilmu yang di milikinya, lebih bermanfaat bagi orang lain yang benar-benar membutuhkan.

Itulah mengapa, dengan penuh ketekunan beliau akan membimbing dan meluruskan niat pemakai susuk supaya lebih bermanfaat dan berdaya guna maksimal untuk mendekatkan hajad atas kuasa Tuhan.

Memperoleh Julukan Nyai Sekar Kenongo dari Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul)

nyi roro kidulDalam penanggalan Kejawen, sasi Suro di anggap sebagai sasi (bulan) sakral. Dimana bulan tersebut banyak terjadi “ malapetaka ” atau bala. Sebagian masyarakat jawa percaya bahwa saat Suro, terutama tanggal 1 sampi 10 para penganut pesugihan hitam akan menyerahkan tumbalnya kepada “ sang lakon ” (makhluk gaib yang memberikan pesugihan).

Salah satunya adalah Nyai Roro Kidul, yang merupakan ratu penguasa gaib pantai selatan. Mulai tanggal-tanggal tersebut, banyak sekali atap-atap rumah yang di gantung air warna-warni sebagai salah satu sarana untuk tolak bala supaya tidak di ambil sebagai tumbal oleh Nyi Roro Kidul.

Berbeda dengan Nyai Sekar Kenongo yang lebih memilih untuk puasa di bandingkan menggantung air warna – warni di atap, karena dia tahu bahwa puasa akan lebih menguatkan energi perlindungan, kendati demikian, dia tidak melarang adik-adiknya untuk mengantung air di atap rumah mereka.

Tepat pada saat malam 1 Suro, Sekar Kenongo melakukan mandi suro dan ritual serta membaca amalan-amalan yang di wejangkan kepadanya. Namun, di tengah membaca wirid, Sekar Kenongo mendengar bunyi lonceng seperti lonceng kereta kuda dari arah selatan. Yang mana semakin lama semakin terdengar lebih keras. Seolah suara itu mau mendekati rumahnya.

Penasaran dengan bunyi tersebut, tanpa ragu Sekar-pun keluar untuk memastikan. Akan tetapi, sesampainya diluar, tidak ada kereta kuda (delman) yang berjalan, dan cenderung sunyi. Sekar-pun beranggapan, “ ah ini mungkin halusinasiku karena terlalu khusuk membaca wirid ”.

Namun, saat hendak kembali melanjutkan wirid, dan baru saja mau masuk kedalam rumah suara itu muncul lagi dan semakin keras. Kali ini Sekar yakin bahwa ini bukanlah halusinasi.

Melihat sekitar yang tidak nampak satu kendaraan pun, Sekar Kenongo coba meihat ke atas.

Tepat pada saat itu, mata Nyai Sekar Kenongo menatap mata seorang wanita ayu penunggang kereta bermahkota kuning emas yang begitu mempesona, mengenakan kemben hijau kuning, berselendang hijau tergerai panjang kebawah.

Sempat pusing akibat hantaman energi cukup kuat yang mencoba masuk ke dalam sukmanya. Namun Sekar mampu menangkal energi itu dan tidak sempat masuk ketubuhnya. Setelah melihat keatas lagi, ternyata perempuan penunggang kereta itu sudah hilang.

Beberapa hari berikutnya, dia mendengar lagi suara lonceng kereta dan kaki kuda. Kali ini dia mengabaikannya karena dia tahu pasti wanita itu lagi. Diapun kembali melanjutkan kegiatan wiridnya seperti malam-malam sebelumnya sambil memejamkan mata.

Wiridnya kembali terhenti manakala mendengar dentuman lonceng tersebut berhenti tepat di atas rumahnya. Saat membuka mata, di lihatnya sosok wanita yang dia temui kemarin malam sudah berada tepat di depannya.

Sempat kaget dan deg-degan, namun Sekar Kenongo mampu mengendalikan dan menguasai dirinya.

Wanita tersebut menyampaikan perihal kedatangannya, yaitu ingin menitipkan sesuatu, yakni sebuah nama. Nama yang akan selalu mengharumkan dan menjaga tradisi leluhur yang juga di cintai oleh wanita tersebut.

“ Siro tak wenehi asmo Nyai Sekar Kenongo, lan golek’o samubarang kang den wis dicapai wong jaman biyen. Seng endi awake dewe ketahoni, menawa wong jaman biyen punika ngrupakne contho utawa suri teladan marang awake dewe ing ngelakoni sejatining kahuripan marang donyo ”.

Bisa diartikan “ Kamu saya beri julukan Nyai Sekar Kenongo, dan capailah segala sesuatu yang telah di capai oleh orang-orang terdahulu. Dimana sudah diketahui, bahwa para pendahulu merupakan contoh atau suri tauladan bagi kita dalam menjalani kehidupan dunia yang sejati ”

Setelah menerima amanat tersebut, tubuh Sekar Kenongo bergetar dan merasakan adanya hantaman energi yang luar biasa masuk ke dalam sukmanya. Hingga membuatnya tidak sadarkan diri beberapa saat.

Saat tersadar kembali, beliau merasakan badannya penuh dengan energi sukma yang begitu kuat. Semenjak kejadian itu, sesekali wanita yang berkunjung kerumahnya tersebut kembali lagi untuk memberitahukan rahasia-rahasia terdalam perihal dunia susuk tradisional asli warisan leluhur jawa.

Dengan nama Nyai Sekar Kenongo yang di amanatkan kepadanya inilah, beliau melaksanakan tugasnya untuk melestarikan serta memurnikan kembali salah satu budaya jawa asli warisan leluhur yang mulai di simpangkan keasliannya, yaitu susuk.

Apa yang di lakukan Nyai Sekar Kenongo Saat ini ?

Sebagai seseorang yang telah mengemban amanat dari leluhur dan diberi kelebihan (ilmu linuwih) dalam hal susuk asli kejawen. Hingga memperoleh julukan sebagai Pakar Susuk Asli Warisan Leluhur Jawa, keseharian Nyai Sekar Kenongo saat ini di sibukkan dengan membantu orang-orang yang datang untuk memasang susuk.

Meski telah memiliki bakat linuwih sebagai seorang Pakar Susuk Asli Jawa, tak lantas menjadikan Nyai Sekar Kenongo berbangga diri akan pengetahuan yang telah di milikinya.

Jika ada kesempatan, beliau selalu memperdalam pengetahuannya perihal Ilmu Susuk Asli Warisan Leluhur Jawa dari berbagai media. Baik berupa buku, kitab kuno ataupun belajar langsung kepada guru-gurunya.

Bagi beliau yang selalu memegang prinsip “ Di atas langit masih ada langit ”, menjadikannya sebagai sosok yang tidak kenal lelah dalam mencari dan belajar guna memperdalam keilmuannya dalam bidang susuk asli warisan leluhur tanah Jawa.

Dan situs www.SusukJawa.com adalah situs resmi pertama milik Nyai Sekar Kenongo dengan visi dan misi membantu banyak orang dalam segala permasalahan dari segi spiritual.

Anda juga bisa berkonsultasi secara GRATIS tentang Pasang Susuk dengan Pakarnya Nyai Sekar Kenongo. Silahkan langsung saja hubungi salah satu kontak yang ada di website ini atau KLIK DI SINI